12.12.12

Baby Led Weaning: A Less Stress Feeding Method?

"AAAAAAAAKKK anak gw ga mau makan!"

Begitu kira-kira reaksi saya saat anak saya tutup mulut disuapi. Dia mingkem serapet-rapetnya. Stres? Ya pastilah. Apalagi pas tau bahwa dia udah ketakutan duluan ngeliat sendok.

***

Hari pertama MPASI kami semua sekeluarga excited untuk ngeliat si anak makan. Selama 6 bulan Zephiryu makannya cuma melalui air susu ibunya. Hari ini, nggak peduli gimana nanti berantakannya sendok kena tepak atau makanan disembur dari mulutnya, pokoknya kami udah menunggu moment ini.

Beberapa hari si anak makan cukup terampil, walau awalnya semua yang masuk mulutnya dia lepeh [mungkin dia bingung, biasa tinggal nyedot ko sekarang disuruh mangap hehe..], tapi substansi yang dimasukkan ke mulutnya berhasil masuk kerongkongannya. Awalnya cuma saya suapi cairan jus buah. Lama kelamaan semakin hari dia makan semakin terampil, hampir setiap hari saya kasi dia buah yang berbeda-beda dengan mulai dikenalkan dengan struktur makanan yang makin pekat juga. Dari jus, ke puree encer, sampai puree kental. Mulai dari satu sendok teh, tiga sendok teh, sampai tiga sendok makan.

Si anak pun makan dengan tertib di high chair. Cuma satu kelemahannya, dia gampang bosan. Jadi kalo dia mulai pukul-pukul meja lebih baik acara makan selesai. Tunggu beberapa saat sampai dia mau lagi duduk high chair. Sampai lima hari pun kegiatan makan masih tetap sama. Zeph duduk di kursinya, disuapi.

Hingga saat itu, dia nolak duduk, kakinya  nendang-nendang kursi dan mulai merengek. Akhirnya sejak saat itu, setiap makan dia saya ajak keliling halaman rumah supaya mau mangap. Tapi ini cuma bertahan beberapa hari. Di hari ke sepuluh dia nggak mau mangap sama sekali, bahkan ngeliat sendok pun dia mau nangis. Sedih...

***

Saya browsing semua artikel tentang gerakan tutup mulut pada anak dan akhirnya ketemu tentang BLW- baby led weaning. Sebenarnya udah lama saya tau metode makan ini, tapi nggak saya terapkan ke anak saya, ya karena saya sendiri yang ketakutan. Pernah, waktu itu saya kasi anak saya makan mangga yang dia pegang sendiri, dia memang bisa gigit, tapi habis itu dia langsung muntah karena kelolotan. Padahal ternyata itu justru mekanisme pertahanan tubuh dia untuk keselamatan dirinya sendiri supaya makanan yang terlalu besar dan kasar nggak masuk ke sistem pernapasannya, namanya gag reflex. Saya sendiri yang meragukan kemampuan anak saya. Akhirnya saya baca semua "ilmu" BLW, dari sini saya yakin bahwa bayi itu pintar, mereka punya kemampuan untuk menggigit, mengunyah dan menelan. Berbekal sharing dari dari teman saya yang sukses ber-BLW juga jadi dorongan kuat untuk memulai metode ini. Sepertinya ini satu-satunya cara supaya si anak tertarik pada makanan.

Hari pertama
Alpukat mentega. Matangnya udah pas, nggak terlalu lembek dan udah nggak getir. Hasil, diremes-remes aja sama dia tuh.

Hari kedua
Wortel, dijilat-jilat. Pir kukus, digigit, trus dilepeh. Sabaaarr... Saabarr...

Hari ketiga sampai kelima
Semua cara saya coba dari setel musik pas dia makan, pindah tempat makan supaya suasana beda, bercanda, ajak ngobrol, apa aja deh dicoba. Konsultasi, sharing, curcol, apa pun namanya, semua saya jalani, blessed those who listened and advised :). Saya kembali ke cara "waktu makan, ya makan". Artinya, saya kembali menempatkan si anak di kursinya saat makan, walaupun sebelumnya saya juga coba cara makan sambil jalan-jalan. Ternyata cara tetap duduk ini yang menurut saya paling bagus untuk menerapkan disiplin pada anak soal tertib makan. Susah awalnya, tapi buntutnya akan lebih repot kalau anak dibiasakan makan sambil jalan-jalan, kata beberapa teman saya. Lagipula, dengan duduk tegak, anak akan lebih punya kontrol terhadap makanannya di mulut, jadi mengurangi resiko tersendak.
Pisang, tomat, semangka, brokoli, selada, semua saya tawarin ke dia. Banyak kemajuan dari hari ke hari, dari cara dia menggenggam makanan, masukin makanan ke mulut dan menggigit, tapi masih suka dilepeh. Bleh. Tapi saya yakin kalo dia tetap bisa merasakan rasa makanan dari sarinya yang diemut-emut.

Hari keenam
Kentang, brokoli, wortel. Awalnya si anak kayak malas memegang makanan. Saya tawarin kentang untuk dia pegang, dia mau pegang dan kentang itu digigit. Saya masih ngira dia akan lepeh gigitannya kayak biasanya, tapi ternyata... dia kunyah!! Dan makanan itu stay di mulut dia, nggak dilepeh. My Goodness, I'm crying happy tears. Setelah itu dia langsung "ngerampas" brokoli dari meja dan dimasukin ke mulutnya, nggak ketinggalan wortel. Itu di dalam mulut penuh makanan, tumpah-tumpah keluar tapi dia tetap ngunyah. Aah akhirnya Zeph benar-benar makan.

Kebayar deh stres berhari-hari mikirin makan si anak :')

Zeph dari cuek sampai kenyang [atau bosan?]


Menerapkan BLW ini bukan tanpa halangan. Dari keluarga, terutama buyutnya Zeph, sangat sangsi kalau ini memang cara yang pas untuk anak belajar makan (menurut saya). "Itu makanannya cuma buat main, kebuang-buang.." atau "Anaknya mana makan itu, perutnya tetep kosong nggak keisi, mana bisa siy anak makan sendiri umur segitu"  merupakan kalimat-kalimat yang berulang kali saya dengar. Sempat down awalnya, dan kepikiran mau balik ke cara suapin dia, apalagi dia kayaknya beneran nggak makan. Lagi-lagi di sini peran anggota keluarga lain, teman dan member grup [iya, saya join grup BLW =p] jadi supporter terbesar yang selalu menguatkan saya saat stres haha. Saya juga usaha dengan cara kasi lihat video youtube anak-anak yang BLW dan print artikel-artikel terkait BLW. Terus, mereka berhenti nentang? Nggak juga, tapi seenggaknya komentar-komentar isengnya berkurang haha. Semoga mereka nanti semakin ngerti.

Sekarang, Zeph makin terampil makan. Dan dia juga makin pintar pilih makanan, mana yang dia suka, mana yang dia kurang suka. Tapi nggak mengurangi keingintahuannya terhadap makanan. "Prakteknya, apa yang dimakan orangtua, itu yang dia makan", kata seorang teman. Masih juga dia suka muntah karena berusaha mengeluarkan potongan makanan yang terlalu besar buat masuk ke kerongkongannya [kerennya si anak ketawa-ketawa aja  setiap habis muntah, like nothing happened]. Tapi itu semua proses yang harus dinikmati. Terlebih, si anak yang banyak belajar dari hasil eksplorasinya sendiri. It's priceless. Meskipun si anak belum banyak makan, saya berniat konsisten untuk menjalani BLW ini. Ya paling kendala lainnya ibunya harus ngabisin makanan anaknya yang bersisa dan rajin-rajin nyapu karena buerraaaantakan :D. So should I say baby-led weaning is a less stress method to feed your baby? Dibanding harus nangis darah karena maksa anak buka mulut? I would say yes. Semoga seterusnya begitu :)



1 comments:

Nurma Octa on June 6, 2015 at 6:17 PM said...

haloi mom, salut bgt sm anaknya dan mommy nya yg uda pintar ngajarin.. kalau boleh tau sejak umur brp anaknya mulai blw? anakku umur 10 bulan, awal mpasi umur 6 bulan masih cara tradisional disuapin gitu, aku mau coba blw.. menurut mom, mulai blw umur 10 bulan telat gak yah? ini hari pertama coba blw dan gagal, hiks...

Post a Comment

 

La Terrasse Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos