3.10.12

Phuket Trip #1- Patong


Ini pertama kalinya saya dan suami ke Thailand. Setelah pikir-pikir antara Bangkok dan Phuket, akhirnya pilihan jatuh ke Phuket. Selain karena ingin suasana yang tenang, jauh dari hura-hura, provinsi yang berada di selatan Thailand ini juga terkenal dengan wisata bahari.

Hari itu kami tiba di bandara internasional Phuket. Jangan takut, keluar dari bandara banyak yang menawarkan nomor GSM gratis, kita tinggal isi pulsa di circleK atau Seven Eleven mana saja. Jadi niat eksis selama liburan? Bisa diatur. Jam menunjukkan sekitar pukul 19:00 waktu Phuket- sama dengan Jakarta. Kami keluar bandara dan sudah banyak sekali agen taksi dan minivan yang menawarkan jasa untuk mengantar kami sampai hotel. Tiket untuk minivan sendiri adalah 120 Baht [1 Baht ~ 300 Rupiah]. Lebih murah memang dibanding taksi yang harganya 400 Baht, tapi kita harus tunggu minivan itu penuh dengan penumpang lain untuk berangkat. Dan karena minivan ini penumpangnya jamak, kita harus sabar sampai giliran kita diantar ke hotel (paling enak kalau kita yang diantar pertama).

Perjalanan dimulai, ternyata bandara-Patong lumayan jauh, (seharusya) sekitar 1 jam perjalanan dengan taksi. Sambil leyeh-leyeh di taksi, membayangkan untuk bisa langsung sampai hotel dan tidur, taksi kami berhenti. Dengan bahasa Inggris yang-penting-bisa-dimengerti, supir taksi ini bilang bahwa dia akan berhenti sebentar untuk laporan penumpang. Kami menunggu hampir 20 menit, supir taksi belum juga kembali. Sambil kami menunggu, tiba-tiba ada perempuan yang menyapa kami dan berbincang ramah tentang kedatangan pertama kami ke Phuket. Ternyata kami memang berhenti di depan kantor agen wisata, pantas si nona menawarkan informasi turisme. Kami akhirnya setuju untuk masuk dan dipresentasikan sambil menunggu supir taksi, sekalian supaya bisa tau harga wisata untuk perbandingan nanti.

Singkat cerita, kami menolak untuk booking penawaran travel itu, akhirnya kami kembali ke taksi dan diantar ke hotel. Waktu menunjukkan pukul 21:30, ketika kami sampai di hotel Bel Aire. Dengan interior yang nyaman, sesuai dengan yang kami lihat di web, kisaran harga di hotel ini lumayan murah, mulai dari 600 Baht (low season) dan 800 Baht (high season).

Bel Aire Hotel
Gorengan ayam
Hari pertama, agenda kami jalan-jalan seputar Patong dan ke pantai. Daerah Patong ini mirip Kuta, tapi lebih rapi. Dari hotel sendiri ke pantai Patong hanya 5 menit jalan kaki. Pagi kami keluar hotel untuk mencari sarapan. Kami memang nggak pilih kamar dengan paket sarapan di hotel. Kami lebih senang keluar untuk hunting makanan khas daerah. Selain itu kami kurang merasa "aman" dengan makanan hotel di Thailand mengingat negara ini bukan mayoritas muslim. Keluar area hotel di pinggir jalan ada penjual gorengan ayam dan teman-temannya. Di samping tukang gorengan ini ternyata ada penjahit. Uniknya, penjahit ini nggak standby di tempatnya, mungkin karena masih sepi, jadi dia meninggalkan nomornya kalau ada yang butuh :D 

Please, call me!

Pagi memang agak sepi, semua penjual di sepanjang jalan itu mulai aktif sore hari menjelang malam. Banyak makanan yang dijual pinggir jalan, selain gorengan, ada kebab, sosis bakar, dan camilan lain. Ternyata, cari makanan halal di Phuket nggak sulit. Banyak orang muslim yang berdagang di sana, kebanyakan dari mereka berasal dari Malaysia, Timur Tengah, ataupun penduduk sekitar Phuket. Selain makanan pinggir jalan, banyak tempat makan western seperti KFC, McD, Starbucks, Hard Rock Cafe, dan pastinya sea food restaurant sepanjang jalan pinggir pantai.



Bang La Road- Jalan yang menghubungkan hotel dengan pantai ini ditutup untuk kendaraan bermotor setiap jam 6 sore untuk berbagai street performance.

Bang La Road, salah satu jalan utama ke pantai, berubah menjadi pedestrian mulai jam 6 sore hingga esok paginya. Berbagai pedagang dan pertunjukan jalanan ada di sini. Pada hari ke 5, sebelum kami meninggalkan Phuket, kami keluar untuk mencari oleh-oleh yang kurang. Saat itu tepat hari Imlek, Bang La Road ditutup siang itu untuk pertunjukan Barongsai. Barongsai keluar masuk tiap toko, untuk mendapatkan koin dari pemilik toko. Sebaliknya, pemilik toko bisa mengambil helaian rambut Barongsai sebagai penarik hoki. Sayang saat itu saya tidak membawa kamera, jadi momen itu hanya bisa terekam di  kepala kami.

Hari semakin siang, kami akhirnya memutuskan untuk jalan-jalan ke Jungceylon, mall Patong. 

Bagi pemburu oleh-oleh, di bagian bawah Junceylon ada tempat bernama That's Siam. Itu tempat khusus suvenir dan barang-barang khas Thailand. Harga barang di sini lumayan murah, kuncinya TAWAR.


Setelah makan siang dan berbelanja di Junceylon, kami kembali ke hotel untuk shalat dan istirahat. Kami agak kesulitan mencari arah kiblat. Bertanya kepada helpdesk hotel juga nggak membantu, mereka tidak familiar dengan hal itu. Penjelasan panjang di telpon mengenai kiblat nggak juga mereka mengerti, akhirnya sebelum desperate saya menutup pembicaraan dengan pertanyaan ke mana arah barat. Dia pun nggak mengerti pertanyaan saya, lost in translation. Akhirnya kami keluar hotel untuk memastikan matahari, ternyata penghuni kamar sebelah kami pun, orang Malaysia, keluar kamar dan melakukan hal yang sama untuk menentukan kiblat :D.

Menjelang sore, kami kembali keluar hotel untuk ke pantai. Cuaca agak sedikit mendung waktu itu, tapi untung nggak hujan. 

Welcome to Patong Beach
Tanda evakuasi tsunami sepanjang pantai
Pantai Patong- mendung
  
150 Baht plus towel

Sambil menunggu sunset, kami datang ke sebuah tourist information booth yang tersedia di sepanjang jalan di Patong untuk ikut tur ke tempat-tempat wisata pulau. Akhirnya kami menetukan hari kedua ke Phi Phi Island (pantai film The Beach), hari ketiga ke Phang Nga Bay (James Bond Island), dan hari keempat ke Coral Island (sea walking). Jangan lupa tawar untuk setiap harga yang kalian lihat di brosur. Budaya berdagang di Thailand sangat mirip dengan Indonesia, mereka suka tawar menawar. Dan keuntungannya sebagai satu rumpun (Asia), mereka bisa memberi harga lebih murah dibandingkan kepada turis Barat. Saya dan suami bisa mendapat harga tur sepertiga dari harga asli di brosur.


Tuktuk
Percaya atau nggak, kami jalan kaki sepanjang hari seputaran Patong. Dari cuma cari makan, belanja, cari travel dan duduk-duduk di pantai. Berkali-kali supir Tuktuk menawarkan untuk mengangkut kami keliling Patong dengan biaya 200 Baht. Sayang, karena hari sudah malam, kami berniat pulang ke hotel. Pagi-pagi sekali kami akan dijemput travel untuk wisata selanjutnya.


 [to be continue..]






 

La Terrasse Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos