31.10.12

Kisah Tukang Pijat dan Aku (2)- Cerita Sepekan

17 comments

Ingat cerita tentang tukang pijat yang gw ceritain beberapa waktu yang lalu?
Ini sekuelnya

Alkisah, gw nggak kapok dengan tukang pijat yang udah kretekin tulang dan nibanin badan gw layaknya tronton [baca di sini]. Gw panggil dia lagi karena nggak ada lagi tukang pijat yang bisa dipanggil di daerah rumah gw. Akhirnya gw memutuskan untuk memanggil kembali Bu Dian untuk memperbaiki badan gw yang rontok. Karena apa? Ini cerita di akhir pekan:

Jumat
"ADA BELATUNG DI KAMAR GW!! Bisa bisanya," Pagi itu suasana histeris, beberapa hari memang di kamar gw seperti ada bau-bauan nggak enak. Gw pikir itu bangkai tikus atau apalah. Maklum banyak binatang di rumah sini, kami semua pecinta binatang. Tapi ini sampai ada belatung. Penasaran apakah bangkai itu ada di kamar gw, akhirnya dari yang cuma longok-longok kolong tempat tidur dan lemari, sampai ke geser-geser sedikit, akhirnya total pindahin furnitur. Yang paling yahud adalah pindahin lemari pakaian gw yang segede gaban dari kayu jati. Bedanya waktu single sama sekarang punya anak adalah, stamina nggak bisa bohong, gw nggak kuat geser lagi. Padahal dulu bisa banget pindahin furnitur tanpa bantuan siapapun. Tapi akhirnya ada solusi, gw minta bantuan Mak Rum. Ini orang hebat banget. Hapir seumuran nyokap gw, tapi masih bisa dorong. Setelah gw pikir-pikir, kayaknya yang bagian dorong sebenarnya dia. Gw cuma modal tarik sama tahan napas aja. Sisanya (pura-pura) mengeluarkan tenaga buat dorong. Akhirnya lemari jati setinggi 2 meter itu berhasil pindah. Hmmm... Sebenarnya ga perlu juga sampai pindahin lemari siy, karena gw udah kebangetan bosen aja sama tampilan interior di kamar. Kebetulan ada momennya dan ada tenaganya (tenaga Mak Rum, maksudnya. Ha). Singkatnya, semua furnitur udah dibongkar, lemari pindah, dan si bangkai nggak ketemu. Ternyata bangkainya ada di atas loteng. Nggak ngerti deh, itu belatung kenapa bisa jatuh dari plafon, pasti ada bagian yang bolong. Meskipun 70 persen tenaga yang dipakai adalah tenaga Mak Rum, tetap, kegiatan ini bikin badan gw rontok level 4 ala Mak Icih.

Sabtu
"Ayooo cepat, nanti kita telat!" Yak. pagi ini gw dan suami harus ke seminar parenting. Berhubung orangtua baru, masih gagap ngurus anak, ceritanya kami haus ilmu gitu.. Seminar parenting ini berjalan sampai sore. Setelah itu ibarat lari sprint, kami balik ke rumah, mandiin anak, siap-siap dan langsung chao ke Cibitung, rumah orang tua suami. Kebayang di sana bisa leyeh-leyeh karena suasananya lengang, sepi. Eh malamnya malah nggak bisa tidur sama sekali, padahal badan berasa capek banget.

Minggu
"Hoaaamm," Ini udah subuh, gw belum juga tidur. Si nenek udah ngetuk-ngetuk pintau kamar dan manggil-manggil si anak untuk keluar. Si anak jalan pagi sama neneknya tapi gw tetap nggak bisa tidur, entah apa yang membuat gw nggak bisa tidur. Di sini gw mulai ngedrop karena nggak tidur. Sampai si anak udah balik dari jalan-jalan pun akhirnya gw harus packing untuk pulang. Cuss.. Sampai lagi di Jakarta. Bukannya langsung ke rumah eh kita ngemol dulu. Ada yang peru dicari. Salahnya, gw pake highheels. Capek maaakk..... Minggu malam akhirnya kegiatan weekend selesai. Dari situ badan gw udah rontok level 9. Habis magrib, anak gw tidur dan gw pun ikut tidur. Bablas..

Nah, dari intro di atas (intro ko panjang banget). Akhirnya gw memutuskan untuk panggil tukang pijat itu lagi. Harapan 100 persen bahwa badan gw bisa enakan setelah kena tangan ajaibnya. Senin, 10:00, dia datang ke rumah, mulai mijat. Nggak usah diceritain lagi lah ya gimana gaya  mijatnya. Dan- masih, ngomongin masalah jamu dan larangan ngeler dada pas mandi. Kali ini gw minta di supaya dia nggak ngetekin tulang-tulang gw dan nggak melintir leher gw. 10 menit, 20 menit berjalan lancar, kesananya gw udah mulai terbiasa sama pijatannya. 45 menit, ko badan gw hampir semuanya udah dipijat ya? Oh mungkin nanti dia pijat ulang lagi beberapa bagian badan. Menit ke 50, loooh ko udahan? Ternyata sebentar ya.. Oh well, yaudah deh, gw kasih aja uangnya dan dia langsung cabs, ada pelanggan lain katanya.

Setelah dipijat, gw tidur. Memang badan gw berasa capek banget. Tapi ini kok habis dipijat kayaknya malah makin lemas.. Gw masih posting, alias positip thinking, bahwa mungkin emang efek pijatan Bu Dian bikin otot-otot "rileks". Dia bilang semua pelanggannya selesai dipijat pasti tidur atau makan (dulu pertama kali pijat, gw nggak ngalamin dua-duanya tuh), mungkin efeknya baru ada sekarang. Ya, gw tidur. Beberapa jam. 

Zzzzz...

Dan pas gw bangun.. APA?! Badan gw anget! Kepala pusing, menggigil. Saat itu gw masih mikir, ini antara gw asli kecapean dan stamina lagi drop sama ada yang salah pijat deh. Tadinya gw nggak percaya sama salah pijat, apalagi si tukang pijat gembar gembor kalo dia dapat ilham ilmu pijat dan nggak sembarang orang bisa. Tapi setelah gw coba cari-cari, gw dapat info bahwa salah teknik pemijatan bisa membuat daya tahan tubuh lemah dan juga badan memar (baca di sini dan di sini). Ada beberapa kelenjar yang berpengaruh ke daya tahan tubuh. Oalaaaaah pantaaass.. Badan gw juga memar-memar di sekitar betis, paha, dan lengan. Berhubung sakit berhari-hari, gw jadi ilfil sama itu tukang pijat. Gw juga berjanji dalam hati nggak mau manggil dia lagi.

Yang lalu biarlah berlalu. Seminggu gw sakit, akhirnya sembuh juga tanpa obat (gw memang nggak biasa minum obat, lebih percaya self healing). Tiba-tiba, Mak Rum masuk ke kamar, "Non, kalo ngelulur 50 ribu juga" Gw memang pernah minta Mak Rum untuk tanya ke Bu Dian biaya lulur sebelum ada tragedi pemijatan kemarin (selain pijat, katanya dia juga biasa jasa lulur). "Ah, mahal!" Selain karena udah ilfil, biaya lulur segitu juga mahal menurut gw. "Hooh, mahal ya, non. Dia mah mijat, ngasih tarif, aturan mah biarin aja orang kasi seikhlasnya, Ini mah ngegetok harga. Sekarang nggak ada lagi kan tuh orang yang mau pake dia.." Lhaaaaaa... Mak Rum kenapa baru cerita sekarang? Jadi yang dia cerita langganannya banyak di gang tempe itu..? Jadi yang cerita dia dapat ilham dan orang-orang akan cari dia untuk mijat itu..? Jadi yang cerita sehari bisa dapet 700an ribu itu..?? Haaaaaaa... Sepertinya gw terlalu gampang percaya sama orang.

----



[Masih untung, gw belum sempat minta dia buat pijat si anak. Katanya dia jago pijat bayi juga. Pas gw minta pijat, tadinya kepengen si anak dipijat juga tapi dia bobo pulas banget.  Tuhan masih ngelindungin kamu, Zephiryu.. :')]


24.10.12

Phuket Trip #4- Coral Island

3 comments

Hari keempat di Phuket..

Agenda hari ini ke Coral Island atau yang disebut Koh Hae oleh masyarakat setempat. Paket tur sehari penuh ni harga aslinya 1200 Baht untuk dewasa, dan 800 Baht untuk anak-anak. Tebak, kami dapat harga berapa? 800 Baht per orang, harga anak-anak! Itu sama dengan Rp 240.000 [1 Baht = 300 Rupiah], murah ya haha. Di sana kami ambil paket kegiatan sea walking, sudah termasuk snorkeling mask, jaket keselamatan, kursi pantai, makan siang, snack, coffee break.

Chalong Pier
Nggak seperti tur lain yang harus berangkat jam 7:00 karena jadwal padat ke beberapa tempat, tur ke Coral Island ini agak santai, berangkat jam 8:00. Minivan sudah menjemput kami menuju Chalong Pier, salah satu dermaga besar di Phuket. Sesampainya di Coral Island pukul 9:30, kami diberi waktu bersiap-siap sesuai paket yang dipilih. Nantinya rombongan akan dikelompokkan menurut paketnya (sea walking, diving, dan water sport). Selama menunggu sampai jam 10:30, kami menikmati snack dan berganti pakaian. Di sini disediakan deposit box untuk menyimpan tas dan barang-barang berharga lainnya yang bisa disewa 50 Baht sehari penuh. Jangan lupa kunci deposit box dijadikan gelang supaya nggak kelupaan atau hilang.



Pas waktunya sea walking, kami dipanggil bang guide. Kelompok sea walking berbaris untuk diberi pengarahan. Waktu itu kalau nggak salah cuma 4 orang yang ikut sea walking. Saya dan suami regu pertama yang dijemput menuju kapal besar di tengah laut. Sesampainya di lokasi, excited! Kami diberi pengarahan lagi bahwa nanti akan turun lewat tangga di samping kapal. Lalu mereka juga menjelaskan bahasa tubuh selama di dalam laut, seperti "oke", "naik", "turun", dan "mati". Haha, nggak deng, bagian terakhir tadi bercanda. Setelah diberi pengarahan, kami diberi sepatu karet supaya kaki nggak ketusuk-tusuk coral. Sudah siap semua, akhirnya kami dipakaikan helm. Pffttt... Berat banget helmnya, ko ada bunyi psst, oh, suara oksigen dari selang, dan, lho ini ko bagian bawahnya terbuka, ga ada penutupnya, Saya panik seketika, takut air laut masuk ke helm dan saya wassalam. Ternyata nggak, tekanan udara menahan air tetap di batas leher (hukum fisika siapa gitu deh, lupa :p). Saya yang pertama masuk ke air dan semakin ke bawah lagi. Tiba-tiba telinga dalam saya sakit, panas dan perih, gendang telinga seperti mau pecah. Seketika saya membuat bahasa tubuh dengan gerakan memotong leher (saya mau mati) dan menunjuk-nunjuk telinga saya (telinga saya sakit), lalu buat gerakan jempol ke atas (minta naik). Tapi si pemandu sepertinya nggak mengerti bahasa saya, saya dadah-dadah di depan mukanya dan mengulang serangkaian bahasa tubuh tadi. Akhirnya si pemandu mengerti, lalu memencet hidungnya. Saya baru ingat, di atas tadi pemandunya bilang, kalau di bawah sini tekanan udaranya berat, kalau telinga sakit kita harus pencet hidung dan napas lewat mulut untuk menyeimbangkan tekanan di saluran THT. Akhirnya saya lakukan itu, nggak pengaruh kok ya. Saya panik lagi, minta naik aja. Tapi si pemandu tetap nggak kasih naik (ini pemandu jahat banget deh, kalau saya mati di situ kan nggak lucu). Akhirnya saya coba lagi, teliga yang kiri sudah mendingan, tapi yang kanan masih sakit.
Singkat cerita, saya sudah mulai terbiasa dengan keadaan bawah laut, suami saya sudah menyusul. Mulailah ikan-ikan seliweran di depan kami. Indaaaah! Selama sea walking ada tiang yang dipasang di dasar untuk pegangan, juga sebagai jalur sea walking. Helm ini sangat berat, ini juga yang menahan kita untuk terus menjejak dasar laut. Kadang-kadang, si pemandu yang memakai masker diving, mengajak bergantian saya dan suami jalan-jalan keluar jalur tiang itu untuk melihat coral dan ikan-ikan lainnya yang bersembunyi di bebatuan. Nggak lupa foto-foto di bawah air, untung bawa kamera underwater hehe. Setengah jam berlalu, kami naik. Karena terlalu lama di dalam air, kami menggigil ketika sampai di atas. Angin laut kencang makin membuat kami menggigil. Di situ sudah menunggu boat untuk mengantar kami kembali ke pantai. 




Sambil masih menggigil, sesampainya di pantai, kami langsung makan siang ala prasmanan. Makanannya masih halal ko.. Pengalaman sea walking tadi benar-benar membuat perut lapar. Kami makan lahap sayur kuah, tumis-tumisan, ikan bumbu asam manis, tapi karena masakan ikannya agak berbau amis, piring kedua kami nggak ambil lagi ikannya. Belum puas main air, kami memutuskan unuk snorkeling. Benar-benar sampai keling deh kulit =D. Baru setelah itu kami mandi dan bersih-bersih. Di sini disediakan kamar mandi dan kamar ganti yang bersih untuk kenyamanan pengunjung. Pemandu bilang, kami masih bisa diving, banana boat atau parasailing, tapi tambah biaya lagi per aktivitas. Tapi nggak lah, kami capek dan ngantuk, jadi sisa waktu kami pakai untuk bersantai duduk-duduk di kursi pantai, melihat ombak sambil menyeruput kopi. 


Sekitar jam 15:00, kami meninggalkan Coral Island menuju Chalong Pier di Phuket. Ini merupakan tur terakhir di Phuket, besok siang kami kembali ke Indonesia. Serangkaian tur selama di Phuket mulai dari Phi Phi Island, James Bond Island sampai Coral Island meninggalkan kesan mendalam. Saya salut dengan pemerintah Thailand yang berhasil mengelola pariwisata Thailand menjadi salah satu penunjang devisa negara. Kami sampai di hotel, saatnya menghabiskan malam di Patong. Night life di sini nggak kalah seru dari Kuta Bali. Besok, kami tinggal mencari kekurangan oleh-oleh di That's Siam, Jungceylon. Dengan ini Phuket Saga selesai, semoga satu hari nanti bisa kembali ke sini. Wonderful place :)

22.10.12

Phuket Trip #3- Phang Nga Province (3)

2 comments

[sambungan]



Perkampungan nelayan muslim
Waktunya makan! Kami menuju perkampungan nelayan muslim, Koh Pan Yee. Perkampungan ini terapung di atas air lho.. Karena penduduk kampung ini semua muslim, maka makanan yang disajikan juga halal. Saat itu menu kami adalah sup seafood, tumis sawi putih, ayam goreng, udang tepung. dan nanas. Hmm.. mirip masakan Indonesia ya, cita rasanya pun sama. Selesai makan, kami sholat di tempat yang sudah disediakan. Setelah ini  kami masih  punya 2 tempat wisata lagi yang harus dikunjungi. Semangat! Tempat pertama (setelah makan siang) adalah Suvankuhaa Temple (Monkey Cave). Kenapa monkey, ya karena di sini banyak banget monyetnya. Bang guide mengingatkan kita untuk hati-hati dengan monyet-monyet itu, mereka galak dan suka mengambil jam tangan dan barang-barang kecil lainnya. Makanya kita harus pastikan semua barang masuk tas dan tertutup aman supaya "monkey gangster" itu nggak bisa usil. Yang terkenal dari Suvankuhaa Temple ini nggak lain adalah Golden Cave yang masih terdapat di pelataran Suvankuhaa Temple, di dalamnya ada patung Budha raksasa pose tiduran yang terbuat dari emas. Meskipun di sini monyet berkeliaran di mana-mana- karena memang habitatnya, anehnya mereka nggak ada yang masuk ke dalam gua sama sekali lho. Padahal di gua nggak dipasang apapun sebagai penghalang. Nah buat kalian yang mau lihat Sang Budha, tiketnya seharga 20 Baht. Ya, tiket Golden Cave nggak termasuk harga paket tur. Kalau nggak mau bayar, ya main aja sama monyet-monyet, asalkan berani. Waktu itu saya setengah mati nunggu monyet-monyet menyingkir dari sekitar jalan menuju gua. Bukan karena takut dicopet, tapi takut dicakar atau rambut saya diacak-acak haha. Satu lagi tips bagi yang mau masuk ke gua, pakai baju yang pantas. Kalau sekiranya baju kita nggak pantas, lebih baik nggak usah masuk untuk menghormati kuil itu sendiri.


Golden Cave

Monkey Gangster
  


Serius lho ini bikin kaget setengah mati, saya kira petapa betulan


Sang Budha
Suvankuhaa Temple
Hari semakin sore, kami mulai lelah, tapi masih ada satu tempat wisata yang harus dikunjungi, kebun binatang! Sejauh pengamatan saya, kebun binatang ini nggak beda sama kebun binatang lainnya. Isinya binatang (yaiyalah). Tapi kebun binatang ini relatif kecil dibandingkan Ragunan lho, jauh lebih kecil malah. Karena kami, rombongan tur, sudah sangat lelah dan nggak menemukan sesuatu yang menarik di kebun binatang, akhirnya kami meminta bang guide untuk langsung pulang ke Patong, untung bang guide setuju. Sebenarnya, trip ke kebun binatang ini nggak ada di paket tur, tapi berhubung jalan pulang dari Monkey Temple melewati bonbin ini, rombongan kami dikasih extra :p.

Pintu masuk kebun binatang
Dan.. Pulanglah kami ke Phuket..

Hari yang sangat panjang but we had so much fun. Dalam perjalanan kembali ke hotel, kami sholat di minivan. Jadi tipsnya, bawa perlengkapan solat deh,  supaya bisa sholat di boat atau minivan. Dengan ini selesailah tur kami di Thailand hari ketiga. Besok kami harus ke Coral Island untuk sea walking! Woohooo!!

Phuket Trip #3- Phang Nga Province (2)

2 comments

[sambungan..]

Lukisan sejarah ratusan tahun
Setelah menerima tatapan aneh peserta rombongan tur (yaiyalah, telat sih..) kami lanjut ke Pulau Hong. Di sini kita bakal melewati gua-gua bebatuan stalagtit. Tapi sebelum itu kami terus menyusuri teluk Phang Nga. Eh ada yang menarik di sini, bang guide memandu kami ke salah satu tebing batu yang ada coretannya. Awalnya kami nggak tau kalau coretan ini berumur ratusan tahun. Yes, lukisan sejarah! Konon, kalau kita bisa membaca gambar-gambar itu dan menerjemahkannya kita bisa punya ilmu bicara sama... IKAN. Hebat ya. Selama ini sih belum ada yang bisa tuh. Kapal menjauh dari tebing itu, berlanjut ke Panak dan Hong Island. Kegiatan di sini adalah canoeing. Jangan takut yang nggak bisa kano karena ada guide sekaligus pendayungnya. Pertama yang kami lihat adalah terowongan mirip goa tapi lebar dan di atasnya banyak stalaktit. Ternyata ini adalah semacam gate, keluar dari situ pemandangannya lebih cihuy lagi, ada hutan mangrove, danau air asin, sama bebatuan yang berbentuk unik.

Tebing terowongan "The Gate"




"Lembu" kata mas guide, artinya sapi. Mirip ya bahasanya.

The Sexy Lady

Pig Nose- hidung babi. Kelihatan nggak?

Tiger Teeth. Hehe mirip gigi macan sih, tajam.
Silicone hill
Pelepas dahaga
Pas lagi asik-asik kano, kami papasan sama kano orang yang guidenya mirip sama Limbad :p. Sayang, fotonya buram jadi nggak bisa dipost di sini. Setelah puas keluar masuk gua-gua kecil berstalagtit (bahkan ada beberapa bagian tebing yang hanya bisa dilewati kalau kita rebahan) kami kembali ke dermaga. Di sini dermaganya adalah kapal besar. Pas lagi mengayuh kano pulang, mas guide sempat-sempatnya menunjuk ke 2 bukit kembar di kejauhan, "silicone hill" katanya sambil terkekeh. Dasar si mas guide. Setelah kami sampai di kapal dermaga baru kerasa haus banget, tapi ternyata di atas sudah tersedia minuman dingin. Asiiiikk... Masalah baru muncul, selesai sama haus eh baru sadar berasa lapar banget. Tengah hari, kami siang ke perkampungan terapung nelayan muslim, Koh Pan Yee untuk makan siang

[bersambung lagi ya ke page sebelah]





Phuket Trip #3- Phang Nga Province (1)

2 comments

Ini dia, hari ketiga agendanya ke Phang Nga Province! Paket ini kami beli seharga 1300 Baht [1 Baht ~300 Rupiah] untuk berdua, dengan harga asli 1300 Baht untuk satu orang. Jadi buy 1 get 1 deh hehe.

Jembatan Phang Nga-Phuket
Seperti biasa, kami standby di lobby hotel jam 7 pagi untuk menunggu jemputan minivan. Hari itu di Patong agak mendung, tapi mudah-mudahan nggak hujan. Perjalanan ke provinsi Phang Nga ini ditempuh hampir 2 jam. Meskipun bersebelahan, provinsi Phuket dan Phang Nga terpisah laut. Jagan kepikiran lautnya jauh, dekat ko, jadi pemerintah Thailand menyiasatinya dengan membuat jembatan antar provinsi. Waktu kami kesana, jembatan ini sedang direnovasi biar semakin bagus mengingat pariwisata Phang Nga berkembang pesat. Tujuan awal tur hari ini James Bond Island, yang terkenal karena spot ini pernah dipakai syuting untuk film agen 007 yang beken itu. Aslinya pulau ini disebut Koh Tapu (Koh: pulau, Tapu: paku) ya karena bentuk batunya seperti paku. Ada juga tebing yang miring, membentuk celah di bawahnya disebut Koh Ping Khan. Cerita-cerita dari si tour guide bikin kami nggak sabar untuk melihat langsung pulau terkenal itu.

Welcome to Phang Nga Province
Akhirnya kami sampai juga! Ternyata di Phang Nga panas, semoga terus panas karena kami nggak bawa payung haha. Kami sampai di sebuah tempat, bukan pelabuhan atau dermaga, tapi ada beberapa kapal tradisional (long tail boat) untuk mengangkut kelompok tur. Long tail boat ini digunakan karena jalur yang dilalui merupakan teluk perairan dangkal, nggak cocok pakai speeboat. Selain itu, pemandangannya cantik banget makanya pakai long tail boat biar puas memanjakan mata karena jalannya lama. Meskipun long tail boat lambat, 20 menit kami sudah sampai di James Bond Island. Bang guide memberi waktu sekitar 40 menit untuk mengitari dan melihat pulau.


Siap merapat!

Koh Tapu, landmark

Koh Ping Khan
Mari belanja
Haah! Akhirnya puas kami berfoto-foto di sekeliling pulau. Eh tapi kami nggak melihat rombongan kami, waduh, kok feeling nggak enak jangan-jangan kami ditinggal lagi. Tapi nggak lama, bang guide kelihatan dari jauh, menghampiri kami. Aah.. Aman. Ternyata belum waktunya balik ke kapal. Sebelum kembali ke kapal, kami foto-foto dulu di Koh Ping Khan, minta tolong bang guide. Selesai foto, kami jalan bertiga menuju kapal "parkir", ternyata di kapal rombongan tur sudah lengkap semua! Jadi ceritanya kami memang telat (lagi)!! Dan ketemunya kami sama si bang guide ini sebetulnya karena dia lagi cariin kami di pulau sampai ke pelosok-pelosok. :D

Hmm.. Karena tur ini masih panjang, mari kita lanjutkan ke page berikutnya. Bersambung ya..

5.10.12

Phuket Trip #2- Maya Bay, Phi Phi Don, Khai Island

4 comments

Hari kedua di Phuket, agenda kami ke Phi Phi Island. Phi Phi Island adalah kepulauan antara Phuket dan Krabi. Terdiri dari Phi Phi Don, pulau besar berpenghuni, dan Phi Phi Leh, kepulauan kecil tak berpenghuni. Salah satu tourism spot yang terkenal di Phi Phi Lay adalah Maya Bay, yang dipakai sebagai tempat syuting film The Beach yang dibintangi Leonardo DiCaprio.

Kemarin kami booking paket tur di salah satu tourist information booth di Thaweeewong Road atau yang sering disebut Beach Road- karena lokasinya tepat di pinggir pantai. Kami ambil paket full day trip, dengan antar jemput minivan, dan speedboat menuju lokasi. Harga di brosur, sekitar 3000 Baht [1 Baht ~ 300 Rupiah], setelah proses tawar menawar kami mendapat harga 1150 Baht. Paket sudah termasuk makan siang, snack, minuman, jaket keselamatan, asuransi, dan alat snorkeling.

Jam 07:00 jemputan kami datang di hotel. Kami berangkat menuju Rassada Pier yang ditempuh sekitar 1 jam. Sesampainya di Rassada Pier, kami dikelompokkan, diberi pengarahan dan ditempeli stiker. Stiker kami berwarna merah, itu artinya kami kelompok speedboat. Paket speedboat ini memang agak sedikit mahal dibanding kapal besar. Kelebihan speedboat selain lebih cepat, sesampainya di Maya Bay kita diijinkan untuk turun sebentar. Sementara dengan kapal besar, perjalanan relatif lebih lama tapi santai, dan kita hanya sightseeing.

Sekitar jam 09:00, kami meninggalkan dermaga. Karena perjalanan masih pagi, angin laut ke arah darat mendominasi, ini yang menyebabkan perjalanan speedboat sangat bumpy karena melawan arus. Bagi yang nggak kuat dengan perjalanan air, saya sarankan untuk sedia antimo :). Kami ambil tempat duduk di belakang speedboat. Sepertinya keputusan yang kurang tepat karena cipratan air laut masuk melalui terpal samping speedboat. Yang paling basah kuyub adalah orang yang duduk di bagian paling belakang dekat baling-baling. 

Perjalanan memakan waktu 45 menit. Beyonce, guide kami, seorang ladyboy, menghibur dengan bernyanyi dan berjoget di kapal. Lumayan, ada hiburan daripada memikirkan rasa mual karena perjalanan yang bumpy. Sekilas terlintas rasa salut dengan pemerintah Thailand, kaum transgender diakui di negara ini, jadi mereka bisa mengaktualisasikan diri tanpa cibiran masyarakat sekitarnya. Perjalanan masih lama, saya mulai mual, kami lupa nggak membawa air. Tiba-tiba Beyonce menyodorkan lemonade, untuk mengurangi rasa mual katanya. Nice :)

Akhirnya Maya Bay mulai kelihatan dari balik tebing-tebing di tengah laut. Mendadak rasa mual dan lelah perjalanan hilang. 


Semakin mendekati Maya Bay

Maya Bay: Siap-siap merapat

Maya Bay

Beyonce bilang, kami punya waktu 30 menit untuk melihat-lihat pulau.





Ilustrasi- ditinggal boat
Karena badan lengket terkarena cipratan air laut dari speedboat, kami berenang sebentar di pantai. Entah berapa menit kami habiskan, perasaan sudah nggak enak. Akhirnya kami naik dan mencari speedboat kami. Gelisah karena nggak ketemu juga dengan rombongan tur kami, kami melihat speedboat nomor 27 hampir ke tengah laut. SPEEDBOAT ITU!! Kami melambaikan tangan. Percuma, mereka nggak dengar. Hopeless, alamat menyusup ke rombongan tur lain atau menyewa tenda bermalam di Maya Bay. Sedetik kemudian speedboat mundur, ternyata ada satu orang dari rombongan yang melihat kami. Akhirnya.. Luck was still with us. Pelajaran yang bisa diambil adalah, pakai jam tangan waterproof dan jangan pernah lepas!


Viking Cave

Tur dilanjutkan, kami menuju Phi Phi Don untuk makan siang. Sebelumnya kami dibawa berkeliling Pileh Cove, yaitu kumpulan tebing-tebing di tengah laut. Lalu melewati Viking Cave yang konon, dulu merupakan tempat bajak laut, sekarang menjadi sarang burung. Lanjut ke Yong Kaseem (Monkey Beach), di sini rombongan boleh turun untuk memberi makan monyet atau snorkeling.

Yong Kaseem: Habitat monyet


Tepat tengah hari kami tiba di Phi Phi Don untuk makan siang prasmanan. Jangan khawatir, makanan yang disediakan halal karena penduduk Phi Phi Don sendiri banyak yang muslim. Kami diberi waktu 90 menit untuk makan siang dan jalan-jalan. Suasana Phi Phi Don di sekitar pantai dan tempat makan sangat ramai, banyak penjual suvenir dan jajanan seperti kelapa bulat (50 Baht) dan jagung bakar (25 Baht). Mencari fasilitas umum pun, seperti toilet dan mesjid nggak sulit karena petunjuk arah terpapang jelas di mana-mana.

Sekitar jam 13:30 kami melanjutkan ke destinasi terakhir dari tur ini, Khai Island. Kegiatan di sini adalah snorkeling, berenang, memberi makan ikan dan sunbathing. Saat menginjakkan kaki di pasir putih, kami diberi pengarahan tentang apa saja yang bisa dilakukan di sini dan kami diberi waktu 2 jam. Kami pun dapat mengambil minuman dingin dan buah potong (semangka dan nanas) di tempat yang telah disediakan khusus untuk rombongan. Awalnya kami tidak ingin snorkeling, kami hanya ingin duduk-duduk di pantai. 



Kami menyewa kursi pantai dengan harga 100 Baht untuk 2 kursi. Air yang jernih dan ikan warna warni yang bergerombol di pantai membuat kami berubah pikiran. Akhirnya kami snorkeling, tas dan barang-barang lainnya kami tinggal di kursi pantai. Kata tukang kursi pantai, barang-barang bisa ditinggal dan dijamin aman. Ikan-ikan mondar mandir di sekitar kami. Tapi menurut saya masih jauh lebih bagus pemandangan bawah laut di Pulau Umang. Dan saya menemukan botol minuman di bawah air, ternyata ada sampah juga ya di sini hehe..

Khai Island

Underwater

Sekitar pukul 16:00 kami kembali ke kapal untuk pulang. Lama perjalanan dari Khai Island ke Phuket hanya 30 menit. Sesaat sebelum sampai di Rassada Pier, Beyonce menyodorkan kantung untuk diputar bergiliran bagi yang ingin memberi tips. Jangan pikir itu suatu keharusan, nggak memberi tips pun nggakakan ditendang keluar kapal kok hehe. Sesampainya di dermaga, Beyonce mengucapkan terima kasih pada rombongan yang kooperatif (saya rasa nggak termasuk saya dan suami mengingat tragedi kami terlambat di Maya Bay :D) dan mengucap selamat tinggal. Diapun jadi seleb dadakan, semua rombongan antri bergiliran meminta foto bersama. Kami sebenarnya juga ingin berfoto bareng Beyonce, tapi minivan kami sudah menunggu. Daripada ditinggal lagi..

Akhirnya kami kembali ke Patong. Minivan mengantar wisatawan bergantian ke hotal masing-masing. Kami sampai di hotel jam 17:30, masih ada waktu untuk shalat Ashar. Meskipun tidak ada perbedaan waktu antara Phuket dan Jakarta, jadwal shalat di Phuket lebih lama sekitar 30 menit dibanding Jakarta. Untuk antisipasi, sebaiknya tetap membawa mukena atau celana panjang/sarung untuk shalat dalam perjalanan. Selesailah tur hari ini, kami istirahat untuk tur besok yang lebih seru lagi ke Phang Nga Bay!

 

La Terrasse Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos